Pencegahan Penggunaan Zat Adiktif Dan Psikotropika

Pencegahan Dan Penyembuhan Akibat Penggunaan Zat Adiktif dan Psikotropika Pencegahan Penggunaan Zat Adiktif dan Psikotropika

Informasi – Pemberitaan atas terjeratnya seseorang akan zat adiktif dan psikotropika (narkoba) mungkin seringkali kita dengar, baik itu dari pemberitaan televisi, media umum maupun dari orang-orang. Padahal bila kita tahu, bahwa dampak jelek akan narkoba ini cukup banyak, baik dampak jelek bagi diri sendiri (kesehatan badan dan psikologi) atau bagi orang lain dan lingkungan sosial.

Dampak jelek jawaban penggunaan zat adiktif dan psikotropika

Dampak jelek bagi diri sendiri yang mencakup gangguan pada kesehatan tubuh, ibarat halnya neurologis (gangguan terhadap sistem syaraf), kardiovaskuler (gangguan terhadap jantung dan pembuluh darah),  dermatologis (gangguan terhadap kulit), pulmoner (gangguan terhadap paru-paru) dan masih banyak lagi.

Dampak jelek bagi psikologi meliputi, keganasan prilaku dan tingkah laris yang brutal, sulit berkonsentrasi, perasaan kesal dan tertekan, lamban dan ceroboh, sering tegang juga gelisah, penuh curiga, tidak percaya diri, apatis, pengkhayal, perasaan tidak aman, dan puncaknya yaitu kecenderungan ingin bunuh diri.

Dampak jelek bagi orang lain dan lingkungan sosial meliputi, asusila dan anti-sosial, dikucilkan oleh lingkungan, merepotkan dan menjadi beban bagi keluarga.

Nah, dari keterangan di atas kita sudah cukup mengetahui ancaman dan dampak negatif dari penggunaan dan penyalahgunaan zat adiktif dan psikotropika terhadap diri kita apabila kita menggunakan zat berbahaya ini. Maka dari itu dibutuhkan pencegahan biar (minimal) diri kita sendiri tidak ikut terjerumus dalam pemakaian dan penyalahgunaan zat berbahaya ini.

Bentuk-bentuk pencegahan penyalahgunaan zat adiktif dan psikotropika

Pencegahan penyalahgunaan zat adiktif dan psikotropika yaitu upaya yang dilakukan terhadap faktor-faktor yang besar lengan berkuasa atau menimbulkan seseorang maupun sekelompok orang menggunakan zat adiktif dan psikotropika, baik secara eksklusif maupun tidak langsung, biar seseorang atau sekelompok masyarakat mengubah keyakinan atau pola pikir, sikap dan perilakunya, sehingga tidak menggunakan narkoba atau berhenti menggunakan zat adiktif dan psikotropika. Ada beberapa macam tingkat pencegahan terhadap zat adiktif dan psikotropika, yaitu sebagai berikut.

1. Pencegahan primer


Pencegahan primer yaitu upaya pencegahan biar orang sehat tidak terlibat penyalahgunaan zat adiktif dan psikotropika. Pencegahan ini biasanya dilakukan dalam bentuk pendidikan, penyebaran informasi mengenai ancaman narkoba, dan pendekatan melalui keluarga. Instansi pemerintah, ibarat halnya BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional), lebih banyak berperan pada tahap intervensi ini. Kegiatan dilakukan seputar pemberian informasi melalui banyak sekali bentuk materi yang ditujukan kepada dewasa eksklusif maupun keluarga.

Nah bagaimana cara mencegah penyalahgunaan zat adiktif dan psikotropika di dalam keluarga? Berikut yaitu upaya yang sanggup dilakukan untuk mencegah anggota keluarga terjerumus penyalahgunaan zat adiktif dan psikotropika.

  • Pelajari fakta dan tanda-tanda dini penyalahgunaan zat adiktif dan psikotropika. 
  • Menjadikan orang renta (yang baik) sebagai teladan. Orang renta yang baik, hendaknya tidak atau berhenti merokok, tidak minum minuman beralkohol, atau menggunakan zat adiktif dan psikotropika serta membuang semua peralatan dan persediaan rokok atau minuman beralkohol. Selalu membiasakan hal-hal yang baik dan memperhatikan kebaikan pada anak-anaknya.
  • Senantiasa berprilaku baik, sehingga akan menciptakan diri kita menjadi pola teladan di dalam anggota keluarga maupun di lingkungan masyarakat.
  • Kembangkan kemampuan kau untuk menolak penyalahgunaan zat adiktif dan psikotropika. Jika ada sahabat yang memaksa atau membujuk menggunakan narkoba, maka kau berhak menolak. Sebaiknya jauhi teman-teman yang salah (apabila memang sudah dinasehati dan tetap sulit berubah) dan juga carilah mitra sejati yang tidak menjerumuskan dan menuntun prilaku kau ke arah atau jalan yang baik dan benar.
  • Ikuti aktivitas yang sehat dan kreatif.
  • Patuhi hukum agama.
  • Patuhi norma dan peraturan yang berlaku di masyarakat.


2. Pencegahan sekunder


Pencegahan sekunder yaitu upaya pencegahan pada dikala penggunaan sudah terjadi dan dibutuhkan upaya penyembuhan (terapi). Tahapan ini meliputi:

  • Tahapan penerimaan awal (initial intake). Tahapan ini dilakukan antara 1 hingga 3 hari dengan melaksanakan investigasi fisik dan mental. 
  • Tahapan detoksifikasi dan terapi komplikasi medik. Tahapan ini dilakukan antara 1 hingga 3 ahad untuk melaksanakan pengurangan ketergantungan bahan-bahan adiktif secara bertahap.


3. Pencegahan tersier


Pencegahan tersier yaitu upaya untuk merehabilitasi mereka yang telah menggunakan dan dalam proses penyembuhan. Tahap ini biasanya terdiri dari:

  • Tahapan stabilisasi. Tahapan ini dilakukan antara 3 hingga 12 bulan, untuk mempersiapkan pengguna kembali ke lingkungan masyarakat. 
  • Tahapan sosialisasi dalam masyarakat. Tahapan ini dilakukan biar orang yang telah menyalahgunakan zat adiktif dan psikotropika (pemakai) bisa membuatkan kehidupan yang bermakna di masyarakat. Tahap ini biasanya berupa aktivitas konseling, menciptakan kelompok-kelompok dukungan, dan membuatkan aktivitas alternatif.

Nah, itulah artikel perihal “Pencegahan Penggunaan Zat Adiktif dan Psikotropika“. Apabila terdapat kesalahan dalam penulisan, mohon maaf. Jika ada kritik, saran maupun hal-hal lainnya, bisa menghubungi Admin di hidangan yang telah tersedia 🙂 Semoga artikel ini bermanfaat dan bisa membawa dampak yang baik.

“Gambar dan isi goresan pena di dalam postingan ini diambil dan diperbaharui dari banyak sekali sumber, mohon maaf apabila terdapat kesalahan, baik itu maksud dari isi postingan ini atau kesalahan apapun. Bijaklah dan selalu berguru untuk mengambil sisi positifnya ya sob!”

Kata kunci terkait pada artikel ini:

Dampak jelek dari penggunaan zat adiktif dan psikotropika dan pencegahannya